Set Fire To The Rain (Adele)

Minggu, 06 Desember 2009

PERJUANGAN PERSIB

Sebelum bernama Persib, di Kota
Bandung berdiri Bandoeng
Inlandsche Voetball Bond (BIVB)
pada sekitar tahun 1923. BIVB
ini merupakan salah satu
organisasi perjuangan kaum
nasionalis pada masa itu.
Tercatat sebagai Ketua Umum
BIVB adalah Mr. Syamsudin yang
kemudian diteruskan oleh putra
pejuang wanita Dewi Sartika,
yakni R. Atot.
Atot ini pulalah yang tercatat
sebagai Komisaris daerah Jawa
Barat yang pertama. BIVB
memanfaatkan lapangan
Tegallega didepan tribun pacuan
kuda. Tim BIVB ini beberapa kali
mengadakan pertandingan diluar
kota seperti Yogyakarta dan
Jatinegara Jakarta.
Pada tanggal 19 April 1930, BIVB
bersama dengan VIJ Jakarta,
SIVB (Persebaya), MIVB
(sekarang PPSM Magelang), MVB
(PSM Madiun), VVB (Persis Solo),
PSM (PSIM Yogyakarta) turut
membidani kelahiran PSSI dalam
pertemuan yang diadakan di
Societeit Hadiprojo Yogyakarta.
BIVB dalam pertemuan tersebut
diwakili oleh Mr. Syamsuddin.
Setahun kemudian kompetisi
tahunan antar kota/
perserikatan diselenggarakan.
BIVB berhasil masuk final
kompetisi perserikatan pada
tahun 1933 meski kalah dari VIJ
Jakarta.
BIVB kemudian menghilang dan
muncul dua perkumpulan lain
yang juga diwarnai nasionalisme
Indonesia yakni Persatuan
Sepakbola Indonesia Bandung
(PSIB) dan National Voetball
Bond (NVB). Pada tanggal 14
Maret 1933, kedua perkumpulan
itu sepakat melakukan fusi dan
lahirlah perkumpulan yang
bernama Persib yang kemudian
memilih Anwar St. Pamoentjak
sebagai Ketua Umum. Klub- klub
yang bergabung kedalam Persib
adalah SIAP, Soenda, Singgalang,
Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM,
JOP, MALTA, dan Merapi.
Persib kembali masuk final
kompetisi perserikatan pada
tahun 1934, dan kembali kalah
dari VIJ Jakarta. Dua tahun
kemudian Persib kembali masuk
final dan menderita kekalahan
dari Persis Solo. Baru pada
tahun 1937, Persib berhasil
menjadi juara kompetisi setelah
di final membalas kekalahan atas
Persis.
Di Bandung pada masa itu juga
sudah berdiri perkumpulan
sepak bola yang dimotori oleh
orang- orang Belanda yakni
Voetbal Bond Bandung &
Omstreken ( VBBO). Perkumpulan
ini kerap memandang rendah
Persib. Seolah- olah Persib
merupakan perkumpulan “ kelas
dua “. VBBO sering mengejek
Persib. Maklumlah pertandingan-
pertandingan yang
dilangsungkan oleh Persib
dilakukan di pinggiran Bandung—
ketika itu—seperti Tegallega dan
Ciroyom. Masyarakat pun ketika
itu lebih suka menyaksikan
pertandingan yang digelar VBBO.
Lokasi pertandingan memang
didalam Kota Bandung dan tentu
dianggap lebih bergengsi, yaitu
dua lapangan dipusat kota, UNI
dan SIDOLIG.
Persib memenangkan “ perang
dingin “ dan menjadi
perkumpulan sepakbola satu-
satunya bagi masyarakat
Bandung dan sekitarnya. Klub-
klub yang tadinya bernaung
dibawah VBBO seperti UNU dan
SIDOLIG pun bergabung dengan
Persib. Bahkan VBBO kemudian
menyerahkan pula lapangan
yang biasa mereka pergunakan
untuk bertanding yakni
Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG
( kini Stadion Persib ), dan
Lapangan SPARTA ( kini Stadion
Siliwangi ). Situasi ini tentu saja
mengukuhkan eksistensi Persib
di Bandung.
Ketika Indonesia jatuh ke
tangan Jepang. Kegiatan
persepakbolaan yang dinaungi
organisasi lam dihentikan dan
organisasinya dibredel. Hal ini
tidak hanya terjadi di Bandung
melainkan juga diseluruh tanah
air. Dengan sendirinya Persib
mengalami masa vakum. Apalagi
Pemerintah Kolonial Jepang pun
mendirikan perkumpulan baru
yang menaungi kegiatan
olahraga ketika itu yakni Rengo
Tai Iku Kai.
Tapi sebagai organisasi
bernapaskan perjuangan, Persib
tidak takluk begitu saja pada
keinginan Jepang. Memang nama
Persib secara resmi berganti
dengan nama yang berbahasa
Jepang tadi. Tapi semangat
juang, tujuan dan misi Persib
sebagai sarana perjuangan tidak
berubah sedikitpun.
Pada masa Revolusi Fisik, setelah
Indonesia merdeka, Persib
kembali menunjukkan
eksistensinya. Situasi dan kondisi
saat itu memaksa Persib untuk
tidak hanya eksis di Bandung.
Melainkan tersebar diberbagai
kota, sehingga ada Persib di
Tasikmalaya, Persib di
Sumedang, dan Persib di
Yogyakarta. Pada masa itu
prajurit- prajurit Siliwangi hijrah
ke ibukota perjuangan
Yogyakarta.
Baru tahun 1948 Persib kembali
berdiri di Bandung, kota
kelahiran yang kemudian
membesarkannya. Rongrongan
Belanda kembali datang, VBBO
diupayakan hidup lagi oleh
Belanda ( NICA ) meski dengan
nama yang berbahasa Indonesia
Persib sebagai bagian dari
kekuatan perjuangan nasional
tentu saja dengan sekuat
tenaga berusaha menggagalkan
upaya tersebut. Pada masa
pendudukan NICA tersebut,
Persib didirikan kembali atas
usaha antara lain, dokter Musa,
Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng
dengan Ketua Munadi.
Perjuangan Persib rupanya
berhasil, sehingga di Bandung
hanya ada satu perkumpulan
sepak bola yakni Persib yang
dilandasi semangat nasionalisme.
Untuk kepentingan pengelolaan
organisasi, decade 1950- an ini
pun mencatat kejadian penting.
Pada periode 1953-1957 itulah
Persib mengakhiri masa pindah-
pindah sekretariat. Walikota
Bandung saat itu R. Enoch,
membangun Sekretariat Persib
di Cilentah. Sebelum akhirnya
atas upaya R.Soendoro, Persib
berhasil memiliki sekretariat
Persib yang sampai sekarang
berada di Jalan Gurame.
Pada masa itu, reputasi Persib
sebagai salah satu jawara
kompetisi perserikatan mulai
dibangun. Selama kompetisi
perserikatan, Persib tercatat
pernah menjadi juara sebanyak
empat kali yaitu pada tahun
1961, 1986, 1990, dan pada
kompetisi terakhir pada tahun
1994. Selain itu Persib berhasil
menjadi tim peringkat kedua
pada tahun 1950, 1959, 1966,
1983, dan 1985.
Keperkasaan tim Persib yang
dikomandoi Robby Darwis pada
kompetisi perserikatan terakhir
terus berlanjut dengan
keberhasilan mereka merengkuh
juara Liga Indonesia pertama
pada tahun 1995. Persib yang
saat itu tidak diperkuat pemain
asing berhasil menembus
dominasi tim tim eks galatama
yang merajai babak penyisihan
dan menempatkan tujuh tim di
babak delapan besar. Persib
akhirnya tampil menjadi juara
setelah mengalahkan Petrokimia
Putra melalui gol yang
diciptakan oleh Sutiono Lamso
pada menit ke-76.
Sayangnya setelah juara,
prestasi Persib cenderung
menurun. Puncaknya terjadi
saat mereka hampir saja
terdegradasi ke Divisi I pada
tahun 2003. Beruntung, melalui
drama babak playoff, tim
berkostum biru-biru ini berhasil
bertahan di Divisi Utama.
Sebagai tim yang dikenal
tangguh, Persib juga dikenal
sebagai klub yang sering
menjadi penyumbang pemain ke
tim nasional baik yunior maupun
senior. Sederet nama seperti
Risnandar Soendoro, Nandar
Iskandar, Adeng Hudaya, Heri
Kiswanto, Yusuf Bachtiar,
Dadang Kurnia, Robby Darwis,
Budiman, Nuralim, Yaris Riyadi
hingga generasi Erik Setiawan
merupakan
sebagian pemain timnas hasil
binaan Persib.
( Feri Istanto | admin
ligaindonesia.com | dari berbagai
sumber )
Stadion: Siliwangi, Bandung
Alamat: Jl. Gurame No. 2
Bandung
Website:
Alamat: Jl. Gurame No. 2
Bandung
Julukan: Maung Bandung,
Pangeran Biru
Costum 1: biru biru
Costum 2: putih putih
>> Pelatih, Pemain & Pengurus
Pelatih: Risnandar
Pemain:
Kiper :
Cecep Supriatna, Edi Kurnia
Belakang:
Usep Munandar, Antonio Claudio,
Edi Hapid Murtado, Charis
Yulianto, Andi Hidayat, Pradith
Taweechai, Gilang Angga, Erik
Setiawan, Tri Sutrisno,
Anwarudin,
Tengah:
Enjang Rohiman, Yaris Riyadi
Tengah, Eka Ramdani, Salim
Alaydrus, Deden Hermawan, Cucu
Hidayat, Amarildo de Souza
Depan:
Dicky Firsat, Boy Jati Asmara,
Gendut Doni, Zaenal Arif
Pengurus:
Ketua Umum : Dada Rosada
Wakil Ketua Umum : Edi Siswadi
Sekretaris Umum : H. Yoyo S.
Adiredja
Bendahara : H. Yossi Irianto
Ketua I/Bidang Pembinaan
Amatir : H. Taufik Faturohman
Ketua II/Bidang Pembinaan
Nonamatir : H.M. Chandra
Solehan
>> Prestasi
Prestasi:
Liga Indonesia 1994/1995 : Juara
Divisi Utama
Liga Indonesia 1995/1996 : 12
Besar Divisi Utama (Peringkat 3
Wilayah Barat)
Liga Indonesia 1996/1997 : 12
Besar Divisi Utama (Juara
Wilayah Tengah)
Liga Indonesia 1997/1998 :
Peringkat 5 Divisi Utama Wilayah
Tengah (Liga dihentikan)
Liga Indonesia 1998/1999 :
Peringkat 3 Divisi Utama Grup B
Liga Indonesia 1999/2000 :
Peringkat 8 Divisi Utama Wilayah
Barat
Liga Indonesia 2001 : 8 Besar
Divisi Utama (Peringkat 3
Wilayah Barat)
Liga Indonesia 2002 : Peringkat
8 Divisi Utama Wilayah Barat
Liga Indonesia 2003 : Peringkat
1 Playoff (Peringkat 16 Divisi
Utama)
Liga Indonesia 2004 : Peringkat
6 Divisi Utama
Liga Indonesia 2005 : Peringkat
6 Divisi Utama Wilayah Barat

1 komentar: